Resmi!! Hasil Sidang Isbat 1 Syawal 1447 H, Idulfitri 2026 Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
- account_circle GR
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 58

Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, usai hilal tidak terlihat di 117 titik.
NEWS PUBLIK | JAKARTA – 1 Syawal 1447 H resmi ditetapkan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Keputusan tersebut diambil pemerintah melalui sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, pada Kamis, 19 Maret 2026.
Penetapan itu menegaskan bahwa bulan Ramadan 1447 Hijriah digenapkan menjadi 30 hari. Pemerintah mengambil keputusan ini setelah hasil hisab dan rukyat menunjukkan hilal belum memenuhi syarat visibilitas yang berlaku di Indonesia.
Dalam konferensi pers usai sidang isbat, Menteri Agama menyampaikan bahwa keputusan tersebut merupakan hasil pembahasan bersama berdasarkan data astronomi dan laporan pemantauan hilal dari berbagai wilayah di Indonesia.
Sidang Isbat Tetapkan 1 Syawal 1447 H pada 21 Maret 2026
Penetapan 1 Syawal 1447 H menjadi perhatian luas masyarakat karena menentukan waktu pelaksanaan Hari Raya Idulfitri 2026. Pemerintah menyatakan, berdasarkan hasil hisab serta tidak adanya laporan hilal terlihat, awal Syawal ditetapkan pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Keputusan ini diambil dalam forum sidang isbat yang juga dihadiri berbagai unsur, mulai dari pimpinan ormas Islam, DPR, MUI, ahli falak, astronom, hingga perwakilan lembaga negara terkait. Kehadiran berbagai pihak ini menjadi bagian dari mekanisme penetapan awal bulan kamariah yang selama ini dijalankan pemerintah.
Momentum sidang isbat bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Forum ini menjadi ruang penting untuk menyatukan data ilmiah, hasil rukyat lapangan, dan pertimbangan keagamaan dalam menetapkan awal bulan Hijriah secara resmi.
Hilal Belum Penuhi Kriteria MABIMS
Menteri Agama menjelaskan, Indonesia menggunakan kriteria visibilitas hilal yang ditetapkan MABIMS, forum Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Kriteria yang dipakai adalah tinggi hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat.
Berdasarkan pemaparan Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama, posisi hilal pada Kamis, 19 Maret 2026, di seluruh wilayah Indonesia berada pada ketinggian sekitar 0 derajat 54 menit 27 detik hingga 3 derajat 7 menit 52 detik, dengan sudut elongasi antara 4 derajat 32 menit 40 detik hingga 6 derajat 6 menit 11 detik. Data ini menunjukkan bahwa secara umum hilal belum memenuhi kriteria visibilitas yang disepakati.
Karena belum lolos ambang MABIMS, pemerintah tidak memiliki dasar yang cukup untuk menetapkan 1 Syawal pada Jumat, 20 Maret 2026. Itu sebabnya Ramadan digenapkan menjadi 30 hari dan Idulfitri ditetapkan sehari setelahnya.
Hilal Tak Terlihat di 117 Titik Pengamatan
Selain data hisab, keputusan pemerintah juga diperkuat oleh hasil rukyat lapangan. Kementerian Agama melakukan pemantauan hilal di 117 titik pengamatan yang tersebar di seluruh Indonesia. Hasilnya, tidak ada satu pun titik yang melaporkan hilal terlihat.
Fakta ini menjadi penopang penting dalam sidang isbat. Sebab, dalam praktik penetapan awal bulan Hijriah di Indonesia, pemerintah tidak hanya mengandalkan hitungan astronomi, tetapi juga laporan observasi langsung di lapangan.
Tidak terlihatnya hilal di seluruh titik pengamatan memperkuat kesimpulan bahwa awal Syawal belum dapat dimulai pada Kamis petang 19 Maret 2026. Dengan kata lain, keputusan sidang isbat kali ini berdiri di atas dua pijakan sekaligus: hisab dan rukyat.
Menag Ajak Umat Jaga Ukhuwah dan Stabilitas Sosial
Usai menetapkan 1 Syawal 1447 H, Menteri Agama juga menyampaikan pesan kepada umat Islam di Indonesia agar menjadikan Idulfitri sebagai momentum mempererat ukhuwah, menyambung silaturahmi, dan menjaga stabilitas sosial. Pernyataan ini sejalan dengan pesan Kemenag di berbagai kanal resminya pada hari yang sama.
Menag juga menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Idulfitri kepada seluruh umat Islam. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menjaga ketenangan, keamanan, ketertiban, dan kebersamaan selama masa Lebaran 2026.
Pesan ini penting, terutama di tengah dinamika perbedaan metode penentuan awal bulan yang kerap muncul setiap tahun. Pemerintah tampak ingin memastikan bahwa perbedaan tidak berkembang menjadi gesekan sosial, melainkan tetap dikelola dalam semangat persaudaraan.
Unsur DPR, MUI, BMKG hingga Astronom Hadir
Sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 H juga dihadiri sejumlah tokoh dan lembaga penting. Di antaranya Ketua Komisi VIII DPR Marwan Dasopang, Wakil Ketua Umum MUI Cholil Nafis, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i, serta para pimpinan ormas Islam.
Selain itu, hadir pula para ahli falak dan astronom dari perguruan tinggi, perwakilan BMKG, BRIN, BIG, Observatorium Bosscha ITB, Planetarium Jakarta, Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad, dan Tim Hisab Rukyat Kemenag. Komposisi peserta ini menunjukkan bahwa penetapan awal Syawal dilakukan dengan pendekatan lintas otoritas: keagamaan, ilmiah, dan kelembagaan.
Kehadiran banyak unsur tersebut juga memperlihatkan bahwa keputusan sidang isbat bukan keputusan sepihak, melainkan hasil verifikasi bersama yang dirancang untuk menjaga legitimasi dan kepercayaan publik.
Idulfitri 2026 Jadi Momentum Kebersamaan
Dengan keputusan ini, umat Islam di Indonesia akan merayakan Idulfitri 1447 Hijriah pada Sabtu, 21 Maret 2026. Penetapan yang diumumkan pemerintah memberikan kepastian bagi masyarakat dalam menyiapkan salat Id, silaturahmi keluarga, hingga agenda mudik dan arus balik.
Lebih dari itu, keputusan ini menandai berakhirnya Ramadan setelah 30 hari penuh. Bagi publik, kepastian tanggal Lebaran bukan hanya soal kalender keagamaan, tetapi juga menyangkut ritme sosial, ekonomi, transportasi, hingga layanan publik selama masa libur panjang.
Pada akhirnya, sidang isbat tahun ini kembali menegaskan satu hal: penetapan 1 Syawal 1447 H dilakukan melalui mekanisme resmi yang memadukan hisab, rukyat, dan musyawarah bersama. Dari sana, pemerintah menetapkan bahwa Hari Raya Idulfitri 2026 jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
- Penulis: GR
