WISATA DANAU SIPIN JAMBI TERPURUK, Warga Minta Pemerintah Bertindak
- account_circle Eli/Tim
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 71

NEWS PUBLIK | Jambi – Wisata Danau Sipin Jambi kembali menjadi sorotan setelah kedatangan Menteri Lingkungan Hidup, Gubernur Jambi, dan Wali Kota Jambi dinilai belum membawa solusi nyata bagi masyarakat sekitar. Harapan besar warga untuk melihat adanya rencana pengembangan kawasan wisata tersebut justru berujung kekecewaan.
Kedatangan para pejabat tinggi tersebut sebelumnya diharapkan menjadi momentum kebangkitan Wisata Danau Sipin Jambi yang saat ini mengalami penurunan drastis, baik dari sisi jumlah pengunjung maupun pendapatan pelaku usaha lokal.
Masyarakat Danau Sipin berharap kunjungan tersebut tidak sekadar seremonial, tetapi diikuti dengan langkah konkret untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi warga.
Harapan Pengembangan Wisata Danau Sipin Jambi Belum Terwujud
Sejumlah warga mengungkapkan bahwa sebelum kedatangan Menteri Lingkungan Hidup, Gubernur Jambi, dan Wali Kota Jambi, mereka berharap adanya pencanangan program pengembangan wisata Danau Sipin.
Namun, harapan tersebut belum terwujud. Tidak ada pernyataan atau rencana konkret yang disampaikan terkait pengembangan kawasan wisata yang kini kondisinya semakin memprihatinkan.
Padahal, Wisata Danau Sipin Jambi selama ini dikenal sebagai salah satu ikon wisata kota yang memiliki potensi besar jika dikelola dengan baik.
Masyarakat menilai, kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan masa sebelumnya, ketika Danau Sipin menjadi salah satu destinasi favorit warga dan wisatawan.
Pendapatan UMKM Anjlok, Ketek Wisata Nyaris Hilang
Dampak penurunan aktivitas wisata di Danau Sipin dirasakan langsung oleh para pelaku usaha, khususnya pedagang kaki lima dan pengelola jasa wisata.
Salah satu indikator paling nyata adalah menurunnya jumlah perahu ketek yang beroperasi. Jika sebelumnya terdapat sekitar 54 unit ketek wisata, kini jumlahnya hanya tersisa sekitar 7 unit saja.

Penurunan ini berdampak signifikan terhadap aktivitas wisata, termasuk kegiatan tahunan seperti perlombaan ketek hias yang tahun ini terancam tidak dapat diselenggarakan karena minimnya armada.
Tidak hanya itu, pendapatan pelaku usaha juga mengalami penurunan drastis. Pada masa lalu, pendapatan ketek wisata pada akhir pekan bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp1 juta per hari.
Namun kini, untuk mendapatkan Rp100 ribu saja dinilai sulit. Bahkan dalam satu minggu, sebagian pelaku usaha hanya mampu meraih pendapatan sekitar Rp150 ribu.
Secara keseluruhan, masyarakat menyebutkan terjadi penurunan pendapatan hingga lebih dari 700 persen, baik pada sektor wisata maupun UMKM di kawasan Danau Sipin.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan warga yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
Kekhawatiran Dampak Wisata Baru Danau Resapan
Selain menurunnya aktivitas wisata, masyarakat juga mengaku cemas dengan pembangunan danau resapan berbasis wisata modern yang saat ini tengah dikembangkan oleh pemerintah kota.
Menurut warga, kehadiran destinasi wisata baru tersebut berpotensi semakin menekan Wisata Danau Sipin Jambi, yang saat ini sudah dalam kondisi “mati suri”.
Mereka khawatir, jika tidak ada perhatian serius terhadap pengembangan Danau Sipin, maka wisata baru tersebut akan menarik seluruh arus pengunjung, sehingga memperburuk kondisi ekonomi pelaku usaha lokal.
“Sekarang saja sudah sulit, apalagi nanti kalau wisata baru sudah jadi, pasti lebih sulit lagi,” ungkap salah satu warga.
Masyarakat menilai seharusnya pemerintah mempertimbangkan aspek pemerataan pembangunan, sehingga tidak terjadi ketimpangan antara wisata lama dan wisata baru.
Minta Pemerintah Adil dan Seimbangkan Pembangunan
Dalam berbagai pernyataan, masyarakat Danau Sipin menegaskan bahwa mereka tidak menolak pembangunan wisata baru. Namun, mereka meminta agar pemerintah tetap memberikan perhatian yang seimbang terhadap pengembangan Danau Sipin.
Menurut warga, biaya pengembangan Wisata Danau Sipin Jambi dinilai tidak sebesar pembangunan danau resapan berbasis wisata modern, karena infrastruktur dasar sudah tersedia dan hanya membutuhkan revitalisasi.
Oleh karena itu, mereka berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah konkret untuk menghidupkan kembali Danau Sipin sebagai destinasi unggulan.
Selain itu, masyarakat juga mengingatkan agar pembangunan yang dilakukan tidak menimbulkan polemik di kemudian hari akibat ketimpangan perhatian terhadap sektor wisata.
Danau Sipin Milik Bersama, Butuh Perhatian Serius
Masyarakat menegaskan bahwa Danau Sipin bukan hanya milik warga setempat, tetapi merupakan aset bersama seluruh masyarakat Jambi.
Sebagai salah satu ikon wisata kota, keberadaan Danau Sipin memiliki nilai ekonomi, sosial, dan budaya yang penting.
Oleh karena itu, masyarakat menilai pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan kawasan tersebut.
“Kami hanya berharap pemerintah adil. Danau Sipin ini bukan hanya milik kami, tetapi milik seluruh masyarakat Jambi,” ungkap warga.
Dengan kondisi yang ada saat ini, masyarakat berharap adanya perhatian serius dan kebijakan strategis dari pemerintah agar Wisata Danau Sipin Jambi dapat kembali bangkit dan menjadi sumber penghidupan yang layak bagi warga.
- Penulis: Eli/Tim
