Breaking News
dark_mode
Trending Tags

JAMBI DAN KETAHANAN PANGAN: Dari Ketergantungan Menuju Kekuatan Strategis Sumatera

  • account_circle GR
  • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
  • print Cetak

JAMBI DAN KETAHANAN PANGAN: Dari Ketergantungan Menuju Kekuatan Strategis Sumatera

JAMBI DAN KETAHANAN PANGAN
“Dari Ketergantungan Menuju Kekuatan Strategis Sumatera”

Oleh:

Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S
(Pakar Ekonomi dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi)
&
Dr. Rosmeli, S.E., M.E
(Sekretaris Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Jambi)

Provinsi Jambi sejak lama dikenal memiliki potensi besar di sektor pertanian. Masyarakat mengenalnya sebagai daerah agraris dengan sumber daya yang melimpah di berbagai wilayah. Namun demikian, sistem pangan di Jambi hingga kini belum sepenuhnya mencapai kemandirian. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rasio produksi terhadap kebutuhan pangan di Jambi berada pada angka 59,9 persen dalam beberapa tahun terakhir. Angka ini menunjukkan bahwa Jambi masih bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya.

Di tingkat lokal, pemerintah daerah masih mengandalkan produksi padi sebagai sumber pangan utama. BPS Provinsi Jambi mencatat produksi padi mencapai 281 ribu ton gabah kering giling pada tahun 2024. Produksi tersebut ditopang oleh pengelolaan lahan seluas lebih dari 61 ribu hektare oleh para petani. Selain padi, komoditas unggulan seperti kelapa sawit, karet, kopi, serta hortikultura juga berkembang di berbagai kabupaten. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara struktural, Jambi memiliki kapasitas produksi pertanian yang cukup kuat.
Namun demikian, sistem pangan Jambi masih menghadapi persoalan mendasar, terutama pada aspek distribusi dan efisiensi. Dinas Pertanian mencatat keterbatasan teknologi serta kualitas sumber daya manusia sebagai hambatan utama dalam peningkatan produktivitas. BPS juga melaporkan bahwa sekitar 12 hingga 15 persen hasil panen hortikultura terbuang setiap tahun akibat kendala distribusi. Fakta ini menunjukkan adanya inefisiensi dalam rantai pasok pangan di daerah. Dampaknya, masyarakat belum sepenuhnya memperoleh akses pangan secara merata dan tepat waktu di seluruh wilayah.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menjelaskan bahwa ketahanan pangan bertumpu pada tiga pilar utama. Pertama, ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup di setiap wilayah. Kedua, akses masyarakat secara ekonomi dan fisik terhadap pangan yang tersedia. Ketiga, kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan pangan secara tepat guna memenuhi kebutuhan gizi. Dalam kerangka ini, Jambi masih menghadapi tantangan, terutama pada aspek keterjangkauan dan distribusi yang belum optimal.

Di sisi lain, pemerintah pusat mencatat adanya tekanan eksternal terhadap sistem pangan nasional dalam beberapa tahun terakhir. Kementerian Pertanian melaporkan bahwa lonjakan impor pangan turut menekan harga komoditas lokal di pasar domestik. Kondisi ini berdampak pada penurunan pendapatan petani dalam jangka pendek di berbagai daerah. Dalam jangka panjang, situasi tersebut berpotensi melemahkan struktur produksi pangan lokal. Karena itu, pemerintah daerah perlu memperkuat sistem pangan guna mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Secara geografis, Provinsi Jambi memiliki posisi strategis di Pulau Sumatera dalam konteks distribusi regional. Letaknya berada di jalur penghubung antarprovinsi yang mengaitkan wilayah barat dan timur. Pemerintah pusat melalui pembangunan Jalan Tol Trans-Sumatera berupaya meningkatkan konektivitas antarwilayah. Kementerian PUPR menegaskan bahwa pembangunan ini bertujuan menekan biaya logistik sekaligus mempercepat distribusi barang. Dalam konteks ini, Jambi memiliki peluang besar untuk berperan sebagai pusat distribusi pangan di Sumatera.

Di tingkat regional, setiap provinsi di Sumatera memiliki keunggulan masing-masing dalam sistem pangan. Sumatera Barat mencatat indeks ketahanan pangan yang tinggi menurut Bapanas. Lampung dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional dalam berbagai laporan pemerintah. Sementara itu, Sumatera Selatan memiliki basis produksi pangan yang luas dan berkelanjutan. Dalam lanskap ini, Jambi dapat memperkuat perannya sebagai penghubung antarwilayah melalui sinergi regional yang terencana.

Pemerintah daerah dapat mendorong kerja sama produksi dengan provinsi lain di Sumatera secara lebih sistematis. Integrasi sistem distribusi antara wilayah surplus dan defisit pangan perlu diperkuat. Selain itu, pengembangan industri pengolahan berbasis bahan baku lokal dapat meningkatkan nilai tambah komoditas. Perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam memperkuat riset dan inovasi melalui kolaborasi lintas daerah. Sinergi tersebut berpotensi memperkokoh stabilitas pangan regional secara menyeluruh.

Upaya peningkatan produktivitas pertanian juga perlu ditempuh melalui pemanfaatan teknologi modern. Kementerian Pertanian mendorong penggunaan teknologi tepat guna untuk meningkatkan efisiensi di tingkat petani. Inovasi seperti mekanisasi, digitalisasi, dan pertanian presisi perlu diadopsi secara lebih luas. Di sisi lain, penguatan kelembagaan petani melalui koperasi modern yang profesional menjadi penting. Koperasi dapat menjembatani hubungan petani dengan industri dan pasar secara lebih efektif dalam rantai nilai.

Selain itu, hilirisasi industri pangan perlu terus didorong secara terencana. Industri pengolahan mampu meningkatkan nilai tambah komoditas lokal dalam jangka panjang. Kementerian Perindustrian menekankan pentingnya hilirisasi untuk memperkuat struktur ekonomi daerah. Produk olahan juga memiliki daya simpan lebih lama dibandingkan bahan mentah, sehingga mendukung stabilitas distribusi pangan. Kondisi ini akan berkontribusi pada ketahanan pasokan pangan yang berkelanjutan.

Kebijakan pangan juga perlu diintegrasikan dengan kebijakan kesejahteraan masyarakat. BPS mencatat bahwa daya beli masyarakat menjadi faktor kunci dalam akses terhadap pangan. Oleh karena itu, peningkatan pendapatan melalui penciptaan lapangan kerja di sektor riil menjadi sangat penting. Kebijakan sosial yang tepat sasaran akan memperluas akses pangan secara merata dan berkeadilan. Dengan demikian, ketahanan pangan dapat terwujud secara inklusif.

Pada akhirnya, Provinsi Jambi memiliki peluang besar untuk tampil sebagai kekuatan strategis di Sumatera dalam bidang pangan. Dukungan sumber daya yang melimpah serta posisi geografis yang menguntungkan menjadi modal utama. Momentum pembangunan infrastruktur perlu dimanfaatkan secara optimal dalam kebijakan daerah. Sinergi antarprovinsi juga harus terus diperkuat untuk membangun sistem pangan yang terintegrasi dan efisien. Dengan langkah yang konsisten, Jambi berpeluang bertransformasi dari daerah yang bergantung menjadi daerah yang menentukan arah ketahanan pangan regional terutama di Sumatera. Semoga!

  • Penulis: GR

Rekomendasi Untuk Anda

  • PT. KMH Gelar Coffee Morning Bersama Media / LSM: “Tegaskan Penyusutan Air Danau Kerinci Bukan Akibat Operasional PLTA

    PT. KMH Gelar Coffee Morning Bersama Media / LSM: “Tegaskan Penyusutan Air Danau Kerinci Bukan Akibat Operasional PLTA

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK | KERINCI – PT Kerinci Merangin Hidro (KMH) menggelar kegiatan Coffee Morning bersama awak media dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) se-Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Hotel Mahkota, Kota Sungai Penuh, Kamis (5/2/2026). Dalam forum silaturahmi dan diskusi tersebut, Manager PT KMH, Asroli, memaparkan sejumlah penjelasan terkait operasional […]

  • Kapolres Tanjabtim Tanam Jagung Dukung Program Ketapang.

    Kapolres Tanjabtim Tanam Jagung Dukung Program Ketapang.

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK, Tanjabtim – Kapolres kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) prov Jambi melakukan aksi penanaman Jagung sebagai ujud dukungan terhadap program ketahanan Pangan (Ketapang) yang telah digagas oleh presiden Prabowo Subianto pada 16 Mei 2025. Kegiatan penanaman jagung yang diikuti oleh seluruh personil polres Tanjabtim, bertempat didesa Suka Maju Kec. Geragai kab. Tanjabtim sebanyak hampir […]

  • Rangkap Jabatan, Hibah Daerah dan Lompatan Tafsir atas LAM

    Rangkap Jabatan, Hibah Daerah dan Lompatan Tafsir atas LAM

    • 1Komentar

    Oleh: Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP (Akademisi UIN STS Jambi) Perdebatan mengenai rangkap jabatan anggota legislatif kembali mengemuka. Rujukannya jelas, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD sebagaimana terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2019. Pasal 236 ayat (1) huruf c menyatakan bahwa anggota DPR dilarang merangkap jabatan […]

  • Menkes Puji Gubernur Al Haris Tingkatkan Layanan Kesehatan di RSUD Raden Mattaher Jambi

    Menkes Puji Gubernur Al Haris Tingkatkan Layanan Kesehatan di RSUD Raden Mattaher Jambi

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK, Jambi — Upaya Gubernur Jambi Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H. dalam memperkuat layanan kesehatan di RSUD Raden Mattaher Jambi menuai pujian langsung dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin. Apresiasi tersebut disampaikan Menkes Budi usai meninjau operasi bedah jantung perdana di RSUD Raden Mattaher, Jumat (31/10/2025), yang menjadi tonggak baru dunia […]

  • Martayadi Tajuddin (Pengamat Kebijakan Publik)

    Fenomena Disinformasi Terhadap Gubernur Jambi, Publik Perlu Kritis, Media Harus Bertanggung Jawab

    • 1Komentar

    Oleh: Martayadi Tajuddin (Pengamat Kebijakan Publik) Ruang Publik Jambi dan Arus Narasi yang Menguat Belakangan ini ruang publik di Provinsi Jambi diwarnai oleh maraknya konten di sejumlah media sosial maupun pemberitaan di beberapa media online yang cenderung mendiskreditkan Gubernur Jambi Al Haris. Fenomena ini tidak hanya terlihat dari intensitas pemberitaan, tetapi juga dari pola narasi […]

  • Memaknai Program Safari Subuh Pemerintah

    Memaknai Program Safari Subuh Pemerintah

    • 0Komentar

    Safari Subuh, Simbol Hadirnya Pemimpin dalam Sunyi Subuh

expand_less