POHON PALA PERLU PEREMAJAAN: Solusi Penyangga Alam Morowali yang Kian Gundul, Warga Desak Reboisasi Segera
- account_circle Yar & Sad
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 105

NEWS PUBLIK | MOROWALI – Pohon pala penyangga alam Morowali kembali menjadi sorotan di tengah kondisi lingkungan yang semakin memprihatinkan. Kerusakan hutan akibat aktivitas pertambangan dinilai semakin masif dan mengancam keseimbangan ekosistem di wilayah tersebut.
Warga Morowali, Salman, mengungkapkan bahwa kondisi alam di Kabupaten Morowali saat ini semakin gundul akibat pembukaan lahan tambang berskala besar, seperti nikel, bijih besi, hingga batu gamping.
“Ratusan hektare lahan menjadi gundul, sehingga kerusakan alam semakin masif,” ujar Salman kepada News Publik Sulteng, Selasa (31/3/2026).
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada hilangnya tutupan hutan, tetapi juga meningkatkan risiko bencana lingkungan seperti erosi dan degradasi tanah.
Pohon Pala Penyangga Alam Morowali, Solusi Reboisasi Lahan Gundul
Menurut Salman, kondisi alam yang semakin parah seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kabupaten Morowali dan Kabupaten Morowali Utara.
Ia menilai perlunya perencanaan matang untuk melakukan reboisasi terhadap lahan-lahan yang telah selesai diolah oleh perusahaan tambang.
“Sudah sepatutnya pemerintah melakukan reboisasi terhadap lahan-lahan yang gundul. Tanah yang sudah selesai diolah perusahaan harus ditanam kembali,” tegasnya.
Reboisasi menjadi langkah penting untuk mengembalikan fungsi ekologis lahan, termasuk menjaga keseimbangan air, mengurangi risiko longsor, serta memperbaiki kualitas tanah yang rusak akibat aktivitas industri ekstraktif.
Pohon Pala dan Kemiri Dinilai Cocok Jadi Penyangga Alam Morowali
Dalam konteks pemulihan lingkungan, Salman menyebut bahwa tanaman yang paling cocok dikembangkan di wilayah Morowali adalah pohon pala dan pohon kemiri.
Kedua jenis tanaman tersebut dinilai memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomi yang tinggi bagi masyarakat setempat.
“Di wilayah Morowali, tanaman yang cocok itu pohon pala atau pohon kemiri. Tanaman ini sudah puluhan tahun menjadi tumpuan hidup masyarakat,” jelasnya.
Selain sebagai sumber penghidupan, buah pala juga merupakan komoditas rempah-rempah yang memiliki nilai jual tinggi, bahkan telah menjadi produk ekspor ke mancanegara.
Hal ini menjadikan pohon pala tidak hanya berfungsi sebagai tanaman produktif, tetapi juga sebagai solusi berkelanjutan dalam upaya rehabilitasi lingkungan.
Peremajaan Pohon Pala Jadi Kunci Tahan Erosi di Morowali
Lebih lanjut, Salman menekankan pentingnya peremajaan pohon pala sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Menurutnya, pohon pala memiliki kemampuan sebagai tanaman penyangga yang efektif dalam mencegah erosi yang selama ini kerap melanda wilayah Morowali.
“Ini perlu peremajaan kembali pohon pala dan menjadi penyangga terhadap erosi yang selama ini melanda wilayah Morowali. Itu kuncinya,” ujarnya.
Dengan sistem perakaran yang kuat, pohon pala mampu menahan struktur tanah agar tidak mudah terkikis, terutama di kawasan yang telah mengalami pembukaan lahan secara besar-besaran.
Desakan Warga: Reboisasi Harus Jadi Prioritas Pemerintah
Masyarakat berharap pemerintah daerah tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi melalui sektor pertambangan, tetapi juga memperhatikan dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Reboisasi berbasis tanaman lokal seperti pala dan kemiri dinilai sebagai solusi strategis yang dapat mengembalikan keseimbangan alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Jika tidak segera dilakukan, kerusakan lingkungan di Morowali dikhawatirkan akan semakin meluas dan berdampak jangka panjang terhadap kehidupan masyarakat serta ekosistem sekitar.
- Penulis: Yar & Sad
