Panas! 2 Kubu Demo Soal Alih Fungsi Lahan Sawah di Teluknaga, Bupati Tangerang Jadi Sasaran Aduan
- account_circle Bandi
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 64

Aksi demonstrasi perihal alih fungsi lahan persawahan di Teluknaga, Tangerang.
📰 Panas! Dua Kubu Demo Soal Alih Fungsi Lahan Sawah di Teluknaga, Bupati Tangerang Jadi Sasaran Aduan
NEWS PUBLIK | Tangerang — Demo alih fungsi lahan Teluknaga memanas di depan kantor Bupati Kabupaten Tangerang, Rabu (22/4/2026). Dua kelompok massa yang sama-sama mengaku berasal dari Kecamatan Teluknaga turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi, namun dengan sikap yang saling bertolak belakang.
Situasi ini menciptakan pemandangan tak biasa. Alih-alih satu suara, demonstrasi justru diwarnai adu argumen antara kubu penolak dan kubu pendukung alih fungsi lahan persawahan. Kedua kelompok secara bergantian menyuarakan tuntutan mereka melalui orasi yang lantang, lengkap dengan spanduk yang mempertegas posisi masing-masing.
Pantauan di lokasi menunjukkan, massa dari kedua kubu berdiri berhadapan dan saling melemparkan pernyataan keras. Sebagian massa menolak keras rencana alih fungsi lahan karena dinilai berpotensi merusak lingkungan serta mengancam mata pencaharian petani.
Dalam aksi tersebut, kelompok yang menamakan diri Pribumi Bersatu menjadi salah satu pihak yang paling vokal menolak kebijakan alih fungsi lahan. Koordinator aksi, Heri, menegaskan bahwa persoalan izin alih fungsi lahan bukan berada di tingkat desa maupun kecamatan.
“Kewenangan menertibkan izin alih fungsi lahan itu dari pusat, bukan dari kades maupun camat,” teriak Heri di tengah kerumunan massa.
Kelompok ini menilai bahwa perubahan fungsi lahan pertanian menjadi kawasan lain dapat membawa dampak serius, terutama terhadap keberlanjutan lingkungan. Selain itu, mereka juga mengkhawatirkan nasib para petani yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor persawahan di Teluknaga.
Bagi mereka, mempertahankan lahan sawah bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan dan keseimbangan ekosistem di wilayah tersebut.
Di sisi lain, kelompok yang mendukung demo alih fungsi lahan Teluknaga juga tak kalah lantang. Mereka menilai bahwa perubahan fungsi lahan justru menjadi peluang untuk mendorong pembangunan dan kemajuan wilayah.
Seorang orator dari atas mobil komando dengan penuh semangat menyampaikan bahwa warga Teluknaga membutuhkan perubahan agar tidak tertinggal dari daerah lain.
“Sampai kapan pun kami warga Teluknaga akan terus melawan, akan terus berjuang agar wilayah kami semakin maju dan tidak ketinggalan. Kami berharap orang-orang yang di luar Teluknaga, yang bukan warga Teluknaga, jangan ikut campur, karena kami yang merasakan, bukan kalian orang luar,” seru orator tersebut dengan nada tinggi.
Pernyataan ini memperlihatkan adanya perbedaan perspektif di tengah masyarakat. Sebagian warga memandang alih fungsi lahan sebagai ancaman, sementara yang lain melihatnya sebagai peluang pembangunan ekonomi dan modernisasi wilayah.
Aksi demo alih fungsi lahan Teluknaga ini sempat memicu ketegangan di lokasi. Kedua kubu yang berseberangan terlihat saling membalas orasi, menciptakan suasana yang cukup panas dan menyita perhatian warga sekitar.
Meski demikian, situasi masih dapat dikendalikan. Aparat gabungan dari TNI dan Polri tampak berjaga di sekitar lokasi untuk mengantisipasi potensi konflik yang lebih besar.
Kehadiran aparat menjadi langkah penting untuk memastikan aksi tetap berlangsung aman dan tidak berujung bentrokan fisik antar massa.
Dalam aksi tersebut, kantor Bupati Kabupaten Tangerang menjadi titik utama penyampaian aspirasi. Kedua kelompok sama-sama berharap pemerintah daerah dapat mengambil sikap atas polemik alih fungsi lahan yang tengah terjadi.
Meski kewenangan perizinan disebut berada di pemerintah pusat, massa tetap mendesak agar pemerintah daerah tidak tinggal diam dan turut memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Peristiwa ini menjadi gambaran nyata bagaimana kebijakan tata ruang dapat memicu perbedaan pandangan di tengah masyarakat. Konflik kepentingan antara pembangunan dan pelestarian lingkungan menjadi isu yang semakin kompleks, khususnya di wilayah yang tengah berkembang seperti Teluknaga.
- Penulis: Bandi
