Breaking News
light_mode
Trending Tags

Reforma Agraria Desa Soso, Menguatkan Peran Petani Perempuan Menuju Kesejahteraan

  • account_circle Bandi
  • calendar_month 4 jam yang lalu
  • visibility 60
Reforma Agraria Desa Soso, Menguatkan Peran Petani Perempuan Menuju Kesejahteraan

Petani perempuan di Desa Soso, Kabupaten Blitar kini miliki sertipikat tanah.

πŸ“° Reforma Agraria Desa Soso, Menguatkan Peran Petani Perempuan Menuju Kesejahteraan

NEWS PUBLIK, BLITAR –Β Reforma Agraria Desa Soso menjadi titik balik penting bagi kehidupan petani perempuan di Kabupaten Blitar. Program yang diinisiasi pemerintah ini tidak hanya menghadirkan kepastian hukum atas tanah, tetapi juga membuka jalan menuju kesejahteraan yang lebih nyata bagi keluarga petani.

Memiliki tanah kini bukan lagi sekadar harapan. Bagi para perempuan petani di Desa Soso, kepemilikan lahan yang sah telah menjadi fondasi untuk memperbaiki taraf hidup, meningkatkan pendapatan, hingga memastikan pendidikan anak-anak mereka tetap berjalan.

Perjalanan panjang Reforma Agraria Desa Soso tidak lepas dari konflik agraria yang sempat membelit wilayah tersebut. Sejak tahun 2012, masyarakat Desa Soso menghadapi sengketa lahan berkepanjangan dengan perusahaan yang beroperasi di wilayah desa.

Patma (55), seorang petani perempuan, menjadi saksi sekaligus pelaku dalam perjuangan mempertahankan lahan. Ia mengingat betul bagaimana ketakutan selalu menghantui setiap kali hendak bercocok tanam.

β€œDulu kalau mau nanam itu takut. Tapi kalau tidak nanam, gimana kita butuh makan,” ungkap Patma saat ditemui di Desa Soso.

Situasi berubah drastis pada 2022, ketika program Reforma Agraria yang diusung Kementerian ATR/BPN mulai dijalankan. Melalui program tersebut, lahan yang sebelumnya tidak memiliki kepastian hukum akhirnya resmi menjadi milik masyarakat.

Kantor Pertanahan Kabupaten Blitar menerbitkan sertipikat hasil redistribusi tanah seluas 83,85 hektare kepada Patma dan 527 keluarga lainnya sebagai penerima Sertipikat Hak Milik.

β€œSekarang, setelah Reforma Agraria kan sudah di redistribusi tanahnya, ya pasti lebih aman, lebih tenang,” ujar Patma.

Dengan kepemilikan tanah yang sah, rasa aman pun tumbuh. Petani kini tidak lagi dihantui ketidakpastian saat mengelola lahan.

Dampak Reforma Agraria Desa Soso tidak hanya berhenti pada aspek legalitas. Perempuan kini memiliki posisi yang lebih kuat dalam pengelolaan lahan dan pengambilan keputusan ekonomi keluarga.

Indra (32), petani perempuan lainnya, merasakan perubahan signifikan setelah memiliki sertipikat tanah atas namanya sendiri.

β€œApalagi sertipikat sudah atas nama sendiri. Jadi kan kita merasa bangga, lebih percaya diri,” tuturnya.

Kepastian hukum ini memberikan ruang bagi perempuan untuk lebih bebas menentukan jenis tanaman, mengatur strategi produksi, hingga merencanakan masa depan keluarga secara lebih matang.

Tak hanya itu, perubahan juga tampak dari sisi ekonomi. Warga mulai memanfaatkan lahan secara optimal, salah satunya dengan menanam jagung sebagai komoditas unggulan.

Melalui kerja sama dengan PT Syngenta Indonesia, petani mendapatkan dukungan berupa bibit unggul, pendampingan teknis, hingga akses pasar yang lebih luas.

Harga jual jagung pun meningkat signifikan, berkisar antara Rp8.500 hingga Rp9.000 per kilogram.

Hasilnya, dari lahan sekitar 1.500 meter persegi, petani mampu menghasilkan hingga 1 ton jagung dengan nilai mencapai sekitar Rp9 juta. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, di mana jagung lokal hanya menghasilkan sekitar Rp4 hingga Rp5 juta.

β€œKalau hasilnya meningkat sudah pasti bahagia, senang,” ungkap Indra.

Peningkatan pendapatan ini membawa dampak langsung terhadap kesejahteraan keluarga, mulai dari pemenuhan kebutuhan sehari-hari hingga pembiayaan pendidikan anak.

Meski telah berkontribusi besar di sektor pertanian, perempuan di Desa Soso tetap menjalankan peran domestik mereka. Sepulang dari kebun, mereka masih harus mengurus rumah tangga, memasak, hingga merawat anak.

Beban ganda ini tidak menyurutkan semangat mereka. Justru, gotong royong antaranggota keluarga dan kelompok tani menjadi kekuatan utama dalam menghadapi tantangan.

Reforma Agraria Desa Soso kini bukan sekadar program redistribusi tanah. Lebih dari itu, program ini menjadi pintu masuk bagi pemberdayaan perempuan di sektor pertanian.

Dengan kepastian hukum dan peningkatan hasil produksi, perempuan Desa Soso tidak hanya menjadi penopang keluarga, tetapi juga motor penggerak kesejahteraan desa.

Reforma Agraria telah membuka ruang baru bagi perempuan untuk tumbuh lebih berdaya, mandiri, dan optimistis menatap masa depan yang lebih pasti.

  • Penulis: Bandi

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less