Breaking News
Trending Tags

Batubara vs Budaya: Candi Muarojambi dalam Pusaran Kepentingan Ekonomi dan Pelestarian Warisan

  • account_circle News Publik
  • calendar_month Kamis, 3 Jul 2025
  • print Cetak

Batubara vs Budaya: Candi Muarojambi dalam Pusaran Kepentingan Ekonomi dan Pelestarian Warisan

Batubara vs Budaya: Candi Muarojambi dalam Pusaran Kepentingan Ekonomi dan Pelestarian Warisan

Oleh:
Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP *
——————————————
Akademisi UIN STS Jambi

============================================================================

Candi Muarojambi merupakan salah satu situs cagar budaya paling penting di Indonesia. Terletak di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, kawasan ini merupakan peninggalan peradaban Melayu-Buddha yang berkembang dari abad ke-7 hingga abad ke-13. Dengan luas sekitar 3.981 hektar, Candi Muarojambi menjadi kompleks percandian terluas di Asia Tenggara. Nilai sejarah, arkeologis, dan kultural yang terkandung di dalamnya menjadikan situs ini sebagai salah satu kekayaan intelektual masa lalu yang membanggakan. Sejak tahun 2009, Candi Muarojambi telah dinominasikan untuk masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO karena integritas dan nilai universalnya yang luar biasa.

Namun, kebesaran masa lalu itu kini dihadapkan pada kenyataan yang mengkhawatirkan. Aktivitas industri batubara, khususnya praktik penumpukan (stockpile) yang dilakukan secara sembarangan, menjadi ancaman serius bagi kelestarian situs ini. Selama lebih dari satu dekade, aktivitas stockpile batubara menjamur di zona inti Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional (KCBN), terutama di Desa Muara Jambi, Tebat Patah, dan Kemingking Dalam. Tumpukan batubara dan lalu lintas kendaraan berat tidak hanya merusak struktur fisik candi yang terbuat dari bata kuno, tetapi juga mencederai keaslian dan kesakralan lanskap budaya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas situs.

Persoalan ini menggambarkan konflik klasik antara kepentingan ekonomi dan pelestarian budaya. Industri batubara memang berkontribusi terhadap pendapatan daerah dan menciptakan lapangan kerja, sehingga kerap dianggap sebagai sektor strategis (Wulandari, 2021). Namun, dampak negatifnya tidak bisa diabaikan. Debu dan polusi udara mempercepat proses pelapukan struktur candi. Kebisingan dan getaran dari kendaraan berat memperburuk kondisi lingkungan. Gangguan visual akibat tumpukan batubara merusak lanskap budaya yang utuh, sebuah elemen penting dalam penilaian UNESCO terhadap kelayakan sebuah situs untuk dijadikan warisan dunia (UNESCO, 2023).

Ironisnya, berbagai regulasi telah disusun untuk melindungi kawasan ini. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya secara tegas mengamanatkan perlindungan kawasan cagar budaya dan zona penyangganya dari segala bentuk aktivitas merusak. Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Strategis Nasional Candi Muarojambi menetapkan zonasi konservasi sebagai bagian dari strategi pelestarian. Bahkan, Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 135/M/2023 mengatur secara eksplisit pembatasan terhadap aktivitas industri pertambangan dan kelapa sawit di kawasan tersebut.

Namun, pada tataran implementasi, kebijakan perlindungan terhadap Candi Muarojambi mengalami defisit eksekusi. Lemahnya penegakan hukum, fragmentasi koordinasi antarinstansi, serta rendahnya kapasitas dan pelibatan masyarakat dalam sistem pengawasan menciptakan celah yang dimanfaatkan oleh kepentingan ekonomi jangka pendek, khususnya industri pertambangan. Ketidakefektifan tata kelola ini berkontribusi langsung pada meningkatnya tekanan terhadap keberlanjutan kawasan situs. Padahal, jika dikelola secara terpadu dan berbasis tata ruang konservasi, Candi Muarojambi berpotensi menjadi simpul strategis pengembangan wilayah berbasis budaya mencakup fungsi edukatif, spiritual, dan ekonomi kreatif. Oleh karena itu, diperlukan reformulasi kebijakan berbasis kolaborasi multipihak, penguatan instrumen regulasi turunan, serta peningkatan kapasitas institusional di tingkat pusat dan daerah agar perlindungan warisan budaya tidak hanya menjadi jargon normatif, melainkan prioritas dalam kerangka pembangunan berkelanjutan.

Untuk mengatasi persoalan ini, dibutuhkan pendekatan yang tidak hanya sistematis, tetapi juga berani dan lintas sektor. Pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan harus segera melakukan evaluasi dan audit terhadap seluruh perizinan aktivitas stockpile di sekitar kawasan situs. Izin yang bertentangan dengan semangat pelestarian budaya perlu ditinjau ulang bahkan dicabut jika perlu. Lebih dari itu, harus dibangun kolaborasi partisipatif yang melibatkan akademisi, tokoh adat, komunitas pelestari budaya, dan pelaku usaha untuk menyusun kebijakan berbasis data dan kearifan lokal.

Strategi pembangunan ekonomi alternatif juga perlu dikembangkan. Penguatan sektor pariwisata sejarah, edukasi berbasis situs, dan ekowisata budaya adalah contoh pendekatan yang tidak hanya menjaga keberlanjutan situs, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat sekitar.

Pelestarian Candi Muarojambi bukan sekadar persoalan kebudayaan lokal, tetapi mencerminkan komitmen bangsa dalam menjaga kesinambungan peradaban. Bila kita gagal melindunginya, maka kita juga gagal merawat jati diri kolektif sebagai bangsa yang besar. Jika upaya perlindungan tidak segera diperkuat, maka risiko hilangnya warisan budaya yang tak tergantikan akan menjadi kenyataan yang disesali di kemudian hari. Penegasan ini semakin menekankan bahwa urgensi pelestarian Candi Muarojambi tidak hanya bersifat simbolik, tetapi menyangkut tanggung jawab strategis yang harus diwujudkan secara konkret dalam kebijakan dan tindakan.

Menjaga Candi Muarojambi bukan semata urusan pelestarian situs sejarah, tetapi merupakan refleksi nyata dari komitmen bangsa dalam merawat peradaban, identitas, dan integritas budaya nasional. Kegagalan dalam melindunginya bukan hanya berarti kehilangan artefak masa lalu, tetapi juga mencerminkan kelalaian kolektif dalam menjaga nilai-nilai luhur yang membentuk jati diri kita sebagai bangsa. Oleh karena itu, pelestarian Candi Muarojambi harus dijadikan prioritas dalam agenda pembangunan nasional dengan pendekatan lintas sektor, partisipatif, dan berkelanjutan yang tidak tunduk pada logika ekonomi sesaat, tetapi berpihak pada warisan budaya yang tak tergantikan. Inilah saatnya kita membuktikan bahwa pembangunan dan pelestarian bukan dua kutub yang saling meniadakan, melainkan bisa berjalan beriringan dalam satu tarikan napas kebangsaan. (*)

  • Penulis: News Publik

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kajari Kaur Baru Sambangi Polres, Dua Institusi Sepakat Perkuat Sinergi

    Kajari Kaur Baru Sambangi Polres, Dua Institusi Sepakat Perkuat Sinergi

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK | KAUR – Kehadiran Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kaur yang baru, Ivan Hebron Siahaan, S.H., M.H., di Mapolres Kaur menjadi momentum memperkuat barisan aparat penegak hukum di Kabupaten Kaur. Dalam kunjungan silaturahmi, Kamis (20/8/2026), dua institusi tersebut menegaskan pentingnya komunikasi dan koordinasi menghadapi dinamika hukum serta keamanan di daerah. Ivan Hebron Siahaan datang […]

  • Pakta Integritas ASN Karawang dalam penguatan komitmen pemerintahan bersih dan profesional.

    Roadshow Integritas Berakhir di Telagasari, ASN Karawang Diminta Jadi Teladan Kepercayaan Publik

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK | KARAWANG – Ratusan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Karawang meneguhkan komitmen untuk memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan profesional melalui penandatanganan pakta integritas. Kegiatan penandatanganan pakta integritas tersebut digelar di Halaman Kantor Kecamatan Telagasari, Senin (15/6/2026) pagi, yang dirangkaikan dengan pelaksanaan apel rutin mingguan bersama jajaran ASN Pemerintah […]

  • Langkah Berani PTPN IV, Sulap Bangunan Tak Terpakai Jadi Pabrik Kopi Kelas Dunia

    Langkah Berani PTPN IV, Sulap Bangunan Tak Terpakai Jadi Pabrik Kopi Kelas Dunia

    • 0Komentar

    📰 Transformasi Hijau, PTPN IV Regional 4 Manfaatkan Aset Bekas Rumah Sakit Jadi Pabrik Kopi Berkelas Ekspor NEWS PUBLIK, Kerinci – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Regional 4 Jambi–Sumatera Barat kembali menunjukkan komitmennya terhadap program hilirisasi komoditas unggulan nasional. Kali ini, perusahaan pelat merah tersebut mengonversi bekas bangunan rumah sakit di kawasan Kayu Aro, Kabupaten […]

  • Sekda Sudirman membuka Festival Hutan Adat Jambi

    Festival Hutan Adat Jambi Digelar, Sekda Sudirman Dorong Penguatan Peran Masyarakat Adat

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK | JAMBI – Pemerintah Provinsi Jambi terus memperkuat komitmennya dalam percepatan pengakuan dan pengelolaan hutan adat sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat kesejahteraan masyarakat adat. Komitmen tersebut ditegaskan Sekretaris Daerah Provinsi Jambi Dr. H. Sudirman, S.H., M.H saat membuka Festival Hutan Adat Jambi bertema “Wujudkan UU Masyarakat Adat untuk Mencapai […]

  • Unit Reskrim Polsek Tabir Berhasil Ringkus Pelaku Pencurian

    Unit Reskrim Polsek Tabir Berhasil Ringkus Pelaku Pencurian

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK, Merangin – Unit Reskrim Polsek Tabir Polres Merangin berhasil mengamankan pelaku tindak pidana pencurian dengan pemberatan, yang terjadi di RT. 01 RW. 01 Kelurahan Pasar Baru Rantau Panjang, Kecamatan Tabir. Pelaku berinisial DR (21) warga Lorong Pinang, Kelurahan Pasar Baru, Rantau Panjang, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin. Aksi pencurian diketahui terjadi pada Sabtu (25/2/25), […]

  • 8 Tahun Perjuangan dan Pengabdian Toni Iskandar Ubah Wajah Desa Mensung

    Menginspirasi! 8 Tahun Perjuangan dan Pengabdian Toni Iskandar Ubah Wajah Desa Mensung

    • 0Komentar

    📰 Menginspirasi! 8 Tahun Perjuangan dan Pengabdian Toni Iskandar Ubah Wajah Desa Mensung NEWS PUBLIK | Sulawesi Tengah – Kades Mensum Toni Iskandar menjadi sorotan publik atas dedikasinya dalam membangun desa dengan penuh jiwa pengabdian. Selama kurang lebih delapan tahun memimpin, berbagai kemajuan mulai terlihat, baik dari sisi pembangunan fisik maupun peningkatan kualitas sumber daya […]

expand_less