Breaking News
Trending Tags

80 Tahun Guru Indonesia: Bagaimana Nasibmu Kini?

  • account_circle Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd. (Ketua Senat UIN STS Jambi)
  • calendar_month Selasa, 25 Nov 2025
  • print Cetak

80 Tahun Guru Indonesia: Bagaimana Nasibmu Kini?

Oleh:

Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd.
(Ketua Senat UIN STS Jambi)

A. Ulang Tahun Guru ke-80 tahun 2025

Peringatan 80 tahun Hari Guru Nasional Indonesia, menjadi momentum refleksi terhadap posisi guru dalam regenerasi bangsa. Banyak kajian global menegaskan bahwa kualitas guru merupakan faktor penentu kualitas SDM nasional (Hanushek, 2020, hlm. 14; Daly & Richards, 2020, hlm. 33). Indonesia telah menyusun kerangka hukum seperti UU Guru dan Dosen serta UU Sistem Pendidikan Nasional yang mewajibkan negara hadir untuk memberikan perlindungan, kompetensi, dan kesejahteraan. Namun pertanyaan mendasar muncul: apakah negara benar-benar berpihak pada guru?

Kajian Mahmud (2023, hlm. 70) menunjukkan bahwa meski alokasi pendidikan ditetapkan 20% dari APBN, hanya sekitar 6–8% yang benar-benar menyentuh guru. Clarke (2023, hlm. 79) mencatat bahwa Indonesia termasuk negara yang alokasi belanja langsung ke guru masih rendah di kawasan Asia. Padahal guru bekerja dalam tekanan era digital: transformasi kurikulum, teknologi AI, serta beban administratif yang makin berat (Anderson, 2021, hlm. 52; Martinez, 2022, hlm. 44).

Situasi ini menjadi semakin kompleks bagi guru honorer dan guru madrasah di bawah Kemenag, yang masih banyak menerima gaji jauh di bawah standar, bahkan hanya Rp200.000 per bulan, menandakan belum meratanya dukungan negara (Garcia, 2021, hlm. 65).

B. Sejarah Guru Indonesia: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Sejarah profesi guru di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjuangan Persatuan Guru Republik Indonesia sejak 1945. Dalam konteks kolonial, guru menjadi agen perubahan sosial yang membangun kesadaran kebangsaan (Suryadi, 2021, hlm. 101). Namun label “pahlawan tanpa tanda jasa” yang diwariskan sejarah kerap menjadi legitimasi kultural bahwa guru seolah cukup dihargai dengan moralitas, bukan kesejahteraan.

Yusuf dan Campbell (2023, hlm. 27) menegaskan bahwa profesi guru pada abad ke-21 harus diposisikan sebagai profesi modern, bukan romantisme tradisional. Pada usia ke-80 peringatan nasional, di tengah globalisasi dan digitalisasi, paradigma penghargaan perlu beralih dari simbolik ke material finansial dan struktural profesional.

C. Bagaimana Negara Maju Menghargai Gurunya

Finlandia, Korea Selatan, Jepang dan Kanada adalah contoh negara dengan penghargaan tinggi terhadap guru. Di Finlandia, seleksi guru sangat ketat, gaji kompetitif, dan dukungan karier diberikan dalam jangka panjang (Salhberg, 2022, hlm. 12). Korea Selatan memberikan status profesi dan sosial tinggi, gaji di atas rata-rata pekerja publik, perlindungan hukum, dan jaminan pensiun (Kim, 2020, hlm. 90). Negara maju tidak hanya menuntut profesionalitas guru, tetapi juga menyediakan kesejahteraan yang memungkinkan guru fokus pada profesionalitas pedagogis.

Penghargaan negara maju terhadap profesi guru umumnya ditopang oleh ekosistem kebijakan yang kuat. Finlandia, misalnya, menyediakan jaminan kesejahteraan hari tua, dukungan psikososial, serta pengembangan profesional berkelanjutan. Menurut Sahlberg (2021, hlm. 48–55), keberhasilan pendidikan Finlandia tidak hanya berasal dari kurikulum dan sistem evaluasi, tetapi terutama dari komitmen negara untuk memastikan guru memiliki kesejahteraan komprehensif yang memungkinkan mereka bekerja secara kreatif dan profesional. Model ini menunjukkan bahwa profesionalitas guru tidak dapat dilepaskan dari kualitas dukungan institusional.

Indikator penghargaan negara maju terhadap guru juga dibahas secara komparatif oleh Miller (2022, hlm. 29–36). Ia menegaskan bahwa terdapat tiga pilar utama yang konsisten muncul dalam berbagai negara berprestasi tinggi dalam literasi dan kompetensi global. Pertama, kompensasi finansial yang memadai dibanding profesi lain dengan kualifikasi yang setara. Kedua, status sosial-profesional yang tinggi, di mana guru dipandang sebagai intelektual publik, bukan sekadar pelaksana teknis kurikulum. Ketiga, adanya jalur karier dan jaminan hari tua yang stabil sehingga profesi guru dipersepsikan sebagai pilihan karier jangka panjang yang bermartabat. Analisis Miller tersebut menunjukkan bahwa penghargaan terhadap guru merupakan kombinasi antara kebijakan finansial, struktur jabatan, dan penghormatan sosial.

Kedua gagasan dari Sahlberg dan Miller memperkuat argumen bahwa kualitas pendidikan suatu bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana negara memperlakukan guru. Dengan kata lain, negara yang maju adalah negara yang tidak hanya menuntut guru untuk profesional, tetapi juga menyediakan infrastruktur kesejahteraan dan perlindungan yang memadai agar profesionalitas tersebut dapat tumbuh dan berkembang.

Bandingkan dengan Indonesia, di mana guru honorer Kemendikdasmen dan Kemenag masih menunggu kepastian P3K, sementara beban digitalisasi terus meningkat tanpa dukungan sistemik (Rahman, 2023, hlm. 20).

Sebagaimana, studi Johnson (2024, hlm. 55) menunjukkan bahwa Indonesia berada pada indeks status guru yang moderat, dengan ketimpangan besar antara guru PNS, PPPK, dan honorer. Guru madrasah Kemenag masih berada pada posisi paling rentan dalam skala kesejahteraan Asia Tenggara (Singh, 2024, hlm. 118).

D. Profesi Guru vs Regulasi Perlindungan Anak

Di Indonesia muncul benturan antara praktik pedagogis dan regulasi perlindungan anak. Guru kerap menghadapi risiko kriminalisasi akibat kesalahpahaman dalam tindakan kedisiplinan (Hidayat, 2022, hlm. 23). Padahal, sebagaimana dicatat Anderson (2021, hlm. 54), relasi pedagogis membutuhkan ruang profesional yang aman dan dilindungi hukum.

Dari sisi hukum, ketegangan terjadi karena regulasi perlindungan anak belum diimbangi pedoman operasional detail mengenai batasan tindakan guru di kelas. Akibatnya, guru sering menahan diri sehingga efektivitas pembelajaran menurun (Rahman, 2023, hlm. 40). Negara perlu menyiapkan “safe-working space” bagi guru tanpa mengabaikan hak anak, sebagai suatu keseimbangan yang di negara maju telah diatur melalui pedoman etik profesi (Brown, 2022, hlm. 17).

E. Keharusan Guru Profesional dan Keseimbangan Finansial di Era Digital

Digitalisasi menuntut guru menguasai pedagogi berbasis teknologi, literasi digital, manajemen kelas virtual, hingga kemampuan mengelola data pembelajaran (Wang, 2021, hlm. 67). Namun profesionalitas tidak mungkin dicapai tanpa kesejahteraan yang memadai. Guru honorer di Kemendikbud maupun Kemenag masih puluhan ribu yang belum diangkat PPPK (Garcia, 2021, hlm. 76). Banyak guru madrasah swasta menerima gaji di bawah UMR, bahkan hanya ratusan ribu rupiah.

Dari perspektif pendanaan, APBN 2025 mencapai ±Rp3.325 triliun. Dengan alokasi 20% untuk pendidikan (±Rp665 triliun), tetapi hanya ±6% yang langsung menyasar guru, berarti dana yang benar-benar diterima guru ±Rp39,9 triliun. Singh (2024, hlm. 122) menegaskan bahwa negara berkembang cenderung membelanjakan anggaran pendidikan untuk administrasi dan infrastruktur ketimbang tenaga pendidik.

Clarke (2023, hlm. 88) menyebut struktur anggaran Indonesia “tidak efektif dalam memperkuat inti ekosistem pendidikan, yaitu guru”. Jika keseimbangan finansial tidak dibenahi, transformasi digital akan menjadi beban baru bagi guru, bukan peluang. Martinez (2022, hlm. 52) bahkan menekankan bahwa keberhasilan digitalisasi pendidikan di Global South bergantung pada stabilitas pendapatan guru sebagai prasyarat psikologis dan profesional.

F. Penutup

Delapan puluh tahun Hari Guru Nasional adalah momen penting untuk mengkritisi arah kebijakan pendidikan Indonesia. Negara telah membuat regulasi, tetapi implementasinya belum merata dan belum berpihak kuat pada guru, terutama guru madrasah, honorer, dan guru daerah 3T. Jika hanya sebagian kecil dari 20% anggaran pendidikan menyentuh guru, maka profesionalitas hanya akan menjadi wacana.

Belajar dari negara maju, Indonesia harus beralih dari penghargaan simbolik ke penghargaan ptofesional struktural: gaji layak, perlindungan hukum, jalur karier, keseimbangan finansial, dan kompetensi digital. Masa depan bangsa tidak akan lebih baik dari kualitas guru yang mendidiknya. Oleh karena itu, negara wajib hadir bukan sekadar dalam regulasi, tetapi dalam perubahan nyata di kelas-kelas seluruh Indonesia.

————

Referensi:

  1. Anderson, M. (2021). Teacher professionalism in the digital transformation era. Journal of Global Education Policy, 9(2), 45–59.
  2. Brown, T. (2022). Equity, funding, and teacher welfare in developing countries. International Review of Education Finance, 33(1), 14–31.
  3. Clarke, R. (2023). Managing educational budgets: A global comparison. Cambridge Education Economics, 12(3), 77–94.
  4. Daly, P., & Richards, L. (2020). Educational justice and the role of teachers. Oxford University Press.
  5. Garcia, M. (2021). Teacher labor markets in low- and middle-income nations. Journal of Comparative Education Studies, 18(2), 62–80.
  6. Hanushek, E. (2020). Human capital and education policy. Cambridge University Press.
  7. Hidayat, R. (2022). Teacher protection in child-centered legal frameworks. Journal of Asian Education, 14(2), 20–33.
  8. Johnson, S. (2024). Global teacher status index revisited. International Journal of Teacher Development, 4(1), 55–72.
  9. Kim, J. (2020). Teacher status and compensation in South Korea. Asian Social Policy Review, 8(1), 80–95.
  10. Mahmud, F. (2023). Budget allocation and teacher welfare in Southeast Asia. International Journal of Public Finance, 11(3), 70–82.
  11. Martinez, H. (2022). Rethinking educational transformation in the AI era. Routledge.
  12. Miller, P. (2022). Comparative Perspectives on Teacher Status and Professionalism. London: Routledge.
  13. Rahman, A. (2023). Teacher certification challenges in Indonesia. Comparative Education Review, 67(1), 35–52.
  14. Sahlberg, P. (2021). Finnish Lessons 3.0: What Can the World Learn from Educational Change in Finland? New York: Teachers College Press.
  15. Salhberg, P. (2022). Finnish lessons for the world. Teachers College Press.
  16. Singh, K. (2024). Financial justice for teachers in emerging economies. Global Journal of Social Policy, 15(2), 112–130.
  17. Suryadi, D. (2021). History of Indonesian teachers. Southeast Asian Education Studies, 4(1), 98–112.
  18. Wang, L. (2021). Digital pedagogy in the Global South. Routledge.
  19. Yusuf, H., & Campbell, E. (2023). Teacher professional identity and ethics in multicultural societies. Springer.

—————

  • Penulis: Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd. (Ketua Senat UIN STS Jambi)
  • Editor: NEWS PUBLIK

Rekomendasi Untuk Anda

  • Memaknai Program Safari Subuh Pemerintah

    Memaknai Program Safari Subuh Pemerintah

    • 0Komentar

    Safari Subuh, Simbol Hadirnya Pemimpin dalam Sunyi Subuh

  • Gubernur Al Haris: APBD Disusun Realistis dan Berkelanjutan

    Gubernur Al Haris: APBD Disusun Realistis dan Berkelanjutan

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK, Jambi — Gubernur Jambi, Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H., menegaskan bahwa penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2026 dilakukan secara realistis, kredibel, dan berkelanjutan, dengan tetap mendukung program prioritas daerah. Pernyataan tersebut disampaikan Al Haris saat menghadiri Rapat Paripurna DPRD Provinsi Jambi dalam rangka penyampaian Nota Keuangan dan RAPBD 2026 […]

  • Peresmian Ninik Mamak Luhah Pemangku Rajo 2026–2028, Sekda Alpian Tekankan Peran Penjaga Moral Masyarakat

    Peresmian Ninik Mamak Luhah Pemangku Rajo 2026–2028, Sekda Alpian Tekankan Peran Penjaga Moral Masyarakat

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK | SUNGAI PENUH – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Sungai Penuh, Alpian, SE, MM, menghadiri acara peresmian Ninik Mamak Adat Luhah Pemangku Rajo periode 2026–2028. Dalam acara tersebut, Bapak Oskarndar, SE resmi ditetapkan sebagai ninik mamak dengan gelar adat Ngabi Teah Satiyo Bawo. Kegiatan berlangsung khidmat di Musola Nurul Ikhlas, Kota Sungai Penuh, Minggu […]

  • APH Tutup mata?? Rp12 Miliar PUPR Sarolangun Diduga Raib

    APH Tutup mata?? Rp12 Miliar PUPR Sarolangun Diduga Raib

    • 0Komentar

    📰 APH Diduga Tutup Mata, Rp12 Miliar PUPR Sarolangun Tak Kunjung Dikembalikan, MPRJ Minta Periksa MR “T” NEWS PUBLIK, Jambi – Masyarakat Peduli Rakyat Jambi (MPRJ) kembali turun ke jalan dan melaporkan secara resmi kontraktor berinisial “T”, KADIS PUPR, Kabid Bina Marga Kabupaten Sarolangun atas dugaan praktik korupsi di Dinas PUPR Kabupaten Sarolangun, Kamis (18/9/2025). […]

  • Pembangunan Proyek PADEL di RT 39 Kel Thehok Diduga Belum Kantongi Izin dan Sebabkan Banjir

    Pembangunan Proyek PADEL di RT 39 Kel Thehok Diduga Belum Kantongi Izin dan Sebabkan Banjir

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK, KOTA JAMBI – Pembangunan lapangan padel di RT 39, Kelurahan Thehok, Kecamatan Jambi Selatan, terus menuai sorotan. Proyek tersebut disebut tetap berjalan meski diduga belum mengantongi izin lengkap, termasuk Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Meski sejumlah dokumen teknis masih bermasalah, pemilik proyek tetap melanjutkan pekerjaan sejak awal. Temuan ini terungkap pada Jumat (5/12/25). Ketua […]

  • Lepas JCH Kloter 20, Pesan Gubernur Jambi: Perbanyak Istighfar Selama di Makkah

    Lepas JCH Kloter 20, Pesan Gubernur Jambi: Perbanyak Istighfar Selama di Makkah

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK, Jambi (Diskominfo Provinsi Jambi) – Gubernur Jambi yang diwakili oleh Asisten III Sekda Provinsi Jambi Bidang Administrasi Umum Jangcik Mohza, S.Pd, M.Si melepas secara resmi keberangkatan Jemaah Calon Haji (JCH) yang tergabung dalam Kloter 20 BTH berjumlah 444 (JCH) dari Kabupaten Muaro Jambi 146, Kabupaten Tanjung Jabung Barat 91, Merangin 197, Kota Jambi […]

expand_less