GUBERNUR AL HARIS: Bonus Demografi Jambi Harus Bisa Dikelola dengan Baik
- account_circle GR
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 66

Gubernur Jambi Al Haris saat memberikan arahan dalam Rakorda Bangga Kencana 2026 di ruang pola Kantor Gubernur Jambi, Rabu (08/04/2026).
NEWS PUBLIK | Jambi — Bonus demografi Provinsi Jambi menjadi sorotan serius dalam arah pembangunan ke depan. Gubernur Jambi, Al Haris, menegaskan bahwa momentum ini bukan hanya peluang emas, tetapi juga tantangan besar yang harus dikelola secara cermat agar tidak berubah menjadi beban pembangunan.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) Tahun 2026 yang digelar di ruang pola Kantor Gubernur Jambi, Rabu (08/04/2026).
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala BKKBN Perwakilan Provinsi Jambi serta keynote speaker secara daring dari Inspektur Utama Kemendukbangga/BKKBN RI.
Rakorda ini menjadi momentum strategis bagi Pemerintah Provinsi Jambi bersama pemerintah kabupaten/kota dalam memperkuat arah kebijakan pembangunan kependudukan yang berkelanjutan.
Bonus Demografi Jambi Jadi Peluang Sekaligus Ancaman Serius
Dalam arahannya, Gubernur Al Haris menegaskan bahwa isu kependudukan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu lembaga, melainkan tanggung jawab bersama lintas sektor.
“Mulai dari ibu hamil, stunting, menyusui, hingga angka kependudukan, semuanya adalah tugas bersama, bukan hanya BKKBN,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa bonus demografi yang tengah berlangsung membutuhkan strategi besar, khususnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Menurutnya, tantangan tersebut meliputi distribusi penduduk yang belum merata, urbanisasi yang semakin cepat, serta peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat, termasuk penanganan stunting.
“Bonus demografi diperkirakan mencapai puncaknya pada tahun 2040. Ini harus kita siapkan dari sekarang,” ujarnya.

Data BPS Ungkap Fakta: 68,66 Persen Penduduk Usia Produktif
Gubernur Al Haris memaparkan bahwa data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan dominasi usia produktif di Provinsi Jambi.
Sebanyak 68,66 persen penduduk berada pada rentang usia 15–64 tahun. Sementara itu, penduduk usia 0–14 tahun mencapai 25,11 persen, dan usia 65 tahun ke atas sebesar 6,03 persen.
“Hampir 70 persen penduduk kita berada di usia produktif. Ini peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa kondisi ini juga dapat menjadi ancaman jika tidak dikelola dengan baik.
“Jika tidak dimanfaatkan secara optimal, bonus demografi justru bisa menjadi beban pembangunan,” tegasnya.
Ancaman Baru: Lonjakan Lansia hingga Fenomena Fatherless
Selain bonus demografi, Gubernur Al Haris juga menyoroti meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia di Provinsi Jambi.
Data menunjukkan bahwa sekitar 6,03 persen penduduk Jambi saat ini merupakan lansia berusia 60 tahun ke atas.
“Kita sedang menuju masyarakat menua. Ini fase yang tidak bisa dihindari dan harus kita kelola dengan baik,” ujarnya.
Ia juga mengungkap fakta memprihatinkan terkait kondisi lansia di daerah, termasuk masih adanya lansia yang hidup sendiri tanpa keluarga dan tinggal di rumah tidak layak huni.

Gubernur meminta seluruh kepala daerah untuk melakukan pendataan yang akurat serta mengalokasikan anggaran khusus bagi kesejahteraan lansia.
Di sisi lain, perhatian juga tertuju pada anak-anak usia 0–14 tahun yang mencapai 25,11 persen dari total penduduk.
Ia menyoroti fenomena “fatherless” atau kehilangan figur ayah yang kini menjadi isu sosial serius.
“Sekitar 25 persen anak kehilangan figur ayah. Ini berpotensi memicu masalah sosial jika tidak kita tangani bersama,” ungkapnya.
Stunting Naik, AKI dan AKB Masih Jadi Sorotan
Gubernur Al Haris juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai tantangan kesehatan masyarakat.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah meningkatnya angka stunting di Provinsi Jambi yang kini mencapai 17,1 persen.
“Kenaikan ini harus menjadi perhatian serius. Kita perlu langkah progresif, mulai dari penguatan data hingga sinergi lintas sektor,” tegasnya.
Selain itu, angka kematian bayi dan ibu juga masih menjadi indikator penting dalam pembangunan kesehatan.
Data menunjukkan Angka Kematian Bayi (AKB) di Jambi berada pada angka 16,99 per 1.000 kelahiran, sementara Angka Kematian Ibu (AKI) mencapai 177 per 100.000 kelahiran.
Meski cenderung menurun, angka tersebut tetap membutuhkan perhatian serius dari seluruh pihak, termasuk tenaga kesehatan seperti Ikatan Bidan Indonesia.

Sinergi Jadi Kunci Sukses Program Bangga Kencana
Pada kesempatan tersebut, Gubernur Al Haris juga memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan program Bangga Kencana di Provinsi Jambi.
Mulai dari pemerintah daerah, organisasi perangkat daerah (OPD), perguruan tinggi, hingga organisasi masyarakat dinilai memiliki peran penting dalam pembangunan kependudukan.
Ia menegaskan bahwa program ini sejalan dengan visi pembangunan daerah “Jambi Mantap” serta program prioritas nasional.
“Ke depan kita harus lebih serius, lebih kompak, dan lebih fokus. Dengan kerja sama yang kuat, kita optimistis berbagai persoalan kependudukan di Jambi bisa kita atasi,” pungkasnya.
- Penulis: GR
