Breaking News
light_mode
Trending Tags

SELAMAT HARI JADI SANTRI XI 22 Oktober 2025: JATI DIRIMU JATI DIRI UMAT & BANGSA

  • account_circle Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd (Guru Besar - Ketua Senat UIN STS)
  • calendar_month Rab, 22 Okt 2025

SELAMAT HARI JADI SANTRI XI 22 Oktober 2025: JATI DIRIMU JATI DIRI UMAT & BANGSA

Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd
(Guru Besar – Ketua Senat UIN STS Jambi)

​Pendahuluan: Lentera yang Tak Pernah Padam Samudra yang Tak Pernah Kering

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) setiap tanggal 22 Oktober (ditetapkan melalui Keppres No. 22 Tahun 2015) bukan sekadar rutinitas seremonial. Ia adalah penanda sejarah sekaligus check-point refleksi kebangsaan. Jika kita ibaratkan, pesantren dan santri adalah lentera yang tak pernah padam dalam menjaga warisan keilmuan Islam-Nusantara dan samudra yang tak pernah kering dalam menyumbangkan ksatria-ksatria sejati bagi Ibu Pertiwi (Amin, 2018, hlm. 45). Sejak era pergerakan hingga era Gen Z saat ini, peran santri tak pernah luput dari narasi utama pembangunan umat dan bangsa.

​Momentum HSN ke-XI pada tahun 2025 ini harus menjadi titik tolak untuk menegaskan kembali posisi sentral santri: bukan hanya pewaris tradisi, melainkan juga arsitek masa depan peradaban. Jati diri santri, yang ditempa oleh disiplin (sin: satrul al-‘awrah), keilmuan (nun: naibul ulama), dan moralitas (ta’: tarkul ma’ashi), pada hakikatnya adalah cerminan dari jati diri kolektif umat dan bangsa Indonesia yang majemuk namun religius (Asy’ari, 2020, hlm. 120). Paper ini akan mengulas bagaimana dinamika identitas santri tersebut bertransformasi, mulai dari benteng pertahanan negara hingga menjadi agen perubahan di tengah hiruk-pikuk disrupsi digital.

​Sejarah (Makna Santri, Sejarah Pesantren & Santri Nusantara: Dari Masa Penjajah hingga Era Digital)

Untuk memahami jati diri santri, kita perlu kembali ke akarnya. Secara etimologi, kata “santri” memiliki banyak interpretasi, mulai dari yang berasal dari bahasa Sanskerta Sasstri (orang yang tahu ilmu kitab suci) hingga akronim Arab yang populer di kalangan pesantren. Namun, secara sosiologis-historis, santri adalah pelajar yang tinggal di pondok (pesantren) dan berjuang untuk menghidupi ajaran para kiai yang sanad keilmuannya tersambung hingga Rasulullah (Siraj, 2021, hlm. 78).

​Sejarah mencatat bahwa pesantren (bersama santri di dalamnya) adalah episentrum perlawanan. Di masa penjajahan, pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga benteng pertahanan moral dan militer (Dhofier, 2017, hlm. 201). Puncak historis peran santri terwujud dalam Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini bukan hanya legitimasi agama, tetapi juga mobilisasi total yang menjadi penyulut heroik Pertempuran 10 November di Surabaya (Fealy & Bubalo, 2016, hlm. 15).

​Setelah kemerdekaan, peran santri bergeser menjadi pembangun dan penjaga nilai. Pesantren menjadi lembaga yang menjaga keseimbangan antara tradisi (ilmu salaf) dan modernitas (ilmu khalaf). Kini, di era digital, pesantren dan santri tidak lagi pasif. Mereka aktif mengintegrasikan teknologi untuk dakwah dan pengembangan ekonomi, membuktikan bahwa Kitab Kuning tidak alergi terhadap kode digital (digital code) (Bruinessen, 2022, hlm. 115).

​Dinamika Pesantren dan Santri dalam Dinamika Umat & Bangsa

​Dinamika umat dan bangsa Indonesia selalu berjalan seiring dengan denyut nadi pesantren. Di arena politik, peran santri tidak bisa diremehkan. Sejak awal kemerdekaan, tokoh-tokoh santri terlibat langsung dalam perumusan dasar negara, memastikan nilai-nilai keislaman terakomodasi secara harmonis dalam bingkai Pancasila dan UUD 1945 (Barton, 2024, hlm. 88).

​Namun, kontribusi terbesar santri justru ada di ranah sosial-kultural. Pesantren adalah pabrik nilai yang secara konsisten mencetak generasi yang memegang teguh wasathiyyah Islam, yaitu moderasi beragama. Mereka adalah garda terdepan dalam merawat toleransi dan menolak radikalisme (Muttaqin, 2023, hlm. 501). Prinsip kiai, “Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik” (al-muhafazhatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah), menjadi landasan bagi santri untuk tetap relevan di tengah perubahan zaman. Nilai-nilai seperti tawadhu (rendah hati) dan khidmah (pengabdian) yang ditanamkan di pondok, menjelma menjadi etos kepemimpinan yang berorientasi pada kepentingan umat (Mustofa, 2021, hlm. 590). Intinya, santri adalah penyeimbang, jembatan yang menghubungkan antara keteguhan tradisi dan kebutuhan kemajuan.

Santri di Era Global: Antara Kitab Kuning Manual dan Digital

​Ketika dunia berputar pada poros digital, santri justru menunjukkan adaptasi yang elegan. Polemik klasik tentang “Kitab Kuning versus Gadget” kini harus diselesaikan dengan sintesis yang cerdas. Santri hari ini adalah mereka yang mampu membaca Kitab Kuning, warisan keilmuan klasik dari ulama salaf, sekaligus memanfaatkan teknologi digital untuk menyebarkannya.

​Bagi mereka, digitalisasi bukanlah ancaman, melainkan perpanjangan tangan dakwah (Nurhayati, 2022, hlm. 50). Ribuan kitab fiqih, tafsir, dan hadis yang tadinya hanya bisa diakses dalam wujud manual, kini tersedia dalam aplikasi di ponsel pintar. Hal ini tidak mengurangi kedalaman ilmu, tetapi justru memperluas akses dan mempercepat proses belajar (tafaqquh fiddin). Namun, digitalisasi ini hanya alat. Yang membedakan santri adalah bimbingan langsung (musyafahah) dari kiai dan sanad keilmuan yang kuat, sehingga mereka tidak tersesat dalam lautan informasi yang dangkal. Santri menggunakan teknologi untuk mengabadikan dan mendistribusikan turāth (warisan keilmuan) mereka, bukan untuk menggantikannya. Inilah cara santri membuktikan bahwa tradisi bisa berdialog mesra dengan teknologi.


Santri Gen Z: Kompetensi Apa yang Harus Disemai

​Santri yang kini mendominasi bangku pondok adalah bagian dari Generasi Z, sebuah generasi yang lahir dan bernapas di tengah konektivitas internet. Untuk menjadi penerus ulama (naibul ulama) sekaligus pemimpin umat (ra’isul ummah) di masa depan, ada beberapa kompetensi krusial yang harus disemai.

​Pertama, Literasi Digital dan Etika Digital. Santri Gen Z harus menjadi “filter” sekaligus “penyebar”. Mereka harus cakap memilah informasi (melawan hoax dan radikalisme digital) dan piawai menyajikan konten dakwah yang sejuk dan relevan (Qomaruddin, 2024, hlm. 102).

Kedua, Keterampilan Soft Skill Lintas Disiplin. Pondok harus membekali santri dengan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi yang efektif. Di era yang kompleks, problem solving yang dilandasi nilai fiqh adalah aset tak ternilai (Ansori, 2023, hlm. 35).

Ketiga, Jiwa Kewirausahaan (Entrepreneurship). Di tengah persaingan ekonomi global, santri tidak boleh hanya menjadi objek, melainkan harus menjadi subjek yang mandiri. Melalui pengembangan unit usaha pesantren dan ekonomi syariah, santri diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja dan menopang kemandirian umat (Latif, 2021, hlm. 285).

Tujuannya sederhana: mencetak pemimpin umat yang berakal modern, berjiwa pesantren.

​Penutup

​Peringatan Hari Santri Nasional ke-XI pada tahun 2025 ini menjadi penegasan bahwa jati diri santri adalah fondasi ketahanan moral dan spiritual bangsa. Dari semangat Resolusi Jihad hingga adaptasi di era streaming dan AI, santri membuktikan bahwa mereka adalah kekuatan transformatif yang tak pernah berhenti berjuang.

​Jati diri santri adalah komitmen untuk terus belajar (tholabul ilmi), berbakti (khidmah), dan menjadi pelopor kebaikan (sābiqul khair). Di tengah derasnya arus globalisasi, mereka adalah jangkar yang menjaga Indonesia tetap tegak, damai, dan berkarakter. Selamat Hari Santri, teruslah menjadi lentera keilmuan dan samudra kearifan. Jati dirimu adalah jati diri umat dan bangsa.

​​Referensi Pendukung:

  • ​Imam al-Ghazali. (2020). Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn (Jilid IV) (Cetakan ke-12). Bairut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
  • ​Ibnu Malik, Muhammad. (2019). Alfiyyah Ibni Mālik (Edisi Tahqīq). Kairo: Maktabah al-Azhar.
  • ​Al-Nawawi, Muhyiddin. (2016). Riyādh as-Sālihīn (Syarah Kontemporer). Damaskus: Dār al-Fikr.
  • ​Al-Qurthubi, Ahmad. (2017). Al-Jāmi’ li Ahkām al-Qur’ān (Jilid III) (Tinjauan Pesantren). Jakarta: Pustaka Pesantren.
  • Barton, G. (2024). The Santri and Political Modernization in Indonesia. Cornell University Press.
  • Bruinessen, M. V. (2022). Kitab Kuning and Digital Age: Transformation of Islamic Learning in Indonesia. Princeton University Press.
  • Fealy, G., & Bubalo, A. (2016). Post-New Order Islam and the Quest for Moderation. NUS Press.
  • Hefner, R. W. (2020). Global Islam and the Remaking of Indonesian Civil Society. University of Hawaii Press.
  • Jamhari, S. (2018). Islamic Law and Pesantren Tradition: Resilience and Change. Routledge.
  • Woodward, M. (2021). The Dynamics of Islamic Education: Pesantren and Islamic Schools in Southeast Asia. Palgrave Macmillan.
  • Amin, M. M. (2018). Santri: Jati Diri, Peran, dan Tantangan Era Digital. LKiS.
  • Asy’ari, K. H. H. (2020). Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah: Tuntunan Hidup Santri. Tebuireng Research Center.
  • Dhofier, Z. (2017). Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kiai dan Relevansinya dengan Pendidikan Nasional. LP3ES.
  • Hasan, A. (2023). Pesantren Digital: Membangun Kompetensi Santri Gen Z. Mizan Pustaka.
  • Siraj, S. A. (2021). Islam Nusantara: Pergulatan Tradisi dan Modernitas. Gramedia Pustaka Utama.

​Jurnal:

  • Mustofa, I. (2021). Santri Leadership and Community Empowerment in the New Normal Era. Journal of Muslim Minority Affairs, 41(4), 589-605.
  • Muttaqin, H. (2023). The Role of Pesantren in Fostering Religious Moderation in Indonesia’s Democratic Transition. Journal of Southeast Asian Studies, 54(3), 501-520.
  • Nurhayati, E. (2022). Bridging the Gap: Kitab Kuning and E-Learning Platforms in Contemporary Pesantrens. Asian Journal of Islamic Studies, 10(1), 45-60.
  • Qomaruddin, A. (2024). Digital Literacy and Character Building for Indonesian Santri Gen Z. International Journal of Islamic Education, 12(2), 99-115.
  • Ansori, D. (2023). Integrasi Pendidikan Soft Skill dan Keilmuan Agama pada Santri di Era Disrupsi. Jurnal Pendidikan Islam, 8(1), 20-40.
  • Fahmi, A. (2022). Revitalisasi Peran Santri dalam Menghadapi Radikalisme Digital. Tsaqafah: Jurnal Peradaban Islam, 18(2), 175-195.
  • Latif, M. (2021). Kontribusi Santri dalam Ekonomi Kreatif Berbasis Pesantren. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 6(3), 280-295.
  • Penulis: Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd (Guru Besar - Ketua Senat UIN STS)
  • Editor: NEWS PUBLIK
  • Sumber: Diskominfo Provinsi Jambi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sekda Sudirman: Kolaborasi Pemda Jambi Bersama Polda Wujudkan Asta Cita Presiden Prabowo

    Sekda Sudirman: Kolaborasi Pemda Jambi Bersama Polda Wujudkan Asta Cita Presiden Prabowo

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK, Sungai Gelam (Diskominfo Provinsi Jambi) – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jambi Dr. H. Sudirman, SH., MH mengungkapkan bahwa perlu kolaborasi antara Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jambi bersama Kepolisian Daerah (Polda) Jambi untuk mewujudkan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Hal tersebut diungkapkannya pada kegiatan Penanaman Jagung Serentak Kuartal III dan Penanaman Jagung di Lahan […]

  • Hadiri Pelantikan Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat, Wagub Sani Tekankan Menjaga Keutuhan NKRI

    Hadiri Pelantikan Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat, Wagub Sani Tekankan Menjaga Keutuhan NKRI

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK, Jambi (Diskominfo Provinsi Jambi) – Wakil Gubernur Jambi Drs. H. Abdullah Sani, M.Pd.I menghadiri pelantikan Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) periode 2025 – 2030 Kota Jambi dan juga melantik Wali Kota Jambi Dr. dr. H. Maulana, MKM sebagai anggota kehormatan PPAD, bertempat di Gedung Griya Mayang Rumah Dinas Wali Kota Jambi, Senin (07/07/2025) […]

  • Asisten III Bidang Adminstrasi Umum OKU Selatan Hadiri BANMUS DPRD Kabupaten OKU Selatan

    Asisten III Bidang Adminstrasi Umum OKU Selatan Hadiri BANMUS DPRD Kabupaten OKU Selatan

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK, MUARADUA – Asisten III Bidang Administrasi Umum OKU Selatan Drs. Herman Azedi. SKM., MM, hadir Rapat Badan Musyawarah DPRD Kabupaten OKU Selatan, Senin (06/01/2025). Rapat Banmus ini di Pimpin Langsung oleh wakil ketua I Yohana Yudayanti, S.E., serta di dampingi jajaran Anggota Banmus DPRD OKU Selatan, Sekretaris Dewan dan hadir juga para OPD […]

  • Korupsi Rp 611 Juta Kades Gunung Kaya dan Perangkatnya Ditahan

    Korupsi Rp 611 Juta Kades Gunung Kaya dan Perangkatnya Ditahan

    • 0Komentar

    N P . KAUR – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kaur resmi menetapkan tersangka perkara  korupsi Dana Desa (DD) Desa Gunung Kaya Kecamatan Padang Guci Hulu (Pagulu) Tahun 2022/2023. Dua tersangka ditetapkan jadi tersangka yakni Kepala Desa (Kades) YY (42) dan juga AG (31) yang menjabat sebagai Kaur Keuangan di Pemerintahan Desa (Pemdes) Desa Gunung Kaya Tersebut. […]

  • PJ Gubernur Babel Hadiri Pelantikan Pimpinan DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Periode 2024-2029

    PJ Gubernur Babel Hadiri Pelantikan Pimpinan DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Periode 2024-2029

    • 0Komentar

    NP BABEL – Setelah resmi dilantik menjadi anggota DPRD, 45 Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) melanjutkan babak berikutnya dengan pelantikan Pimpinan DPRD Provinsi Babel. Susunan jajaran pimpinan DPRD Provinsi Babel periode 2024-2029 adalah sebagai berikut: Dalam kesempatan tersebut, Penjabat (Pj) Gubernur Babel, Sugianto, mengucapkan selamat atas dilantiknya pimpinan dan jajarannya DPRD Babel periode […]

  • Gubernur Al Haris: Generasi Muda Aset Negara, Perlu Ditingkatkan SDM Nya

    Gubernur Al Haris: Generasi Muda Aset Negara, Perlu Ditingkatkan SDM Nya

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK, Bungo (Diskominfo Provinsi Jambi) — Gubernur Jambi Dr. H. Al Haris, S.Sos, MH menegaskan bahwa generasi muda adalah aset bangsa yang perlu dipersiapkan secara maksimal melalui peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM). Pernyataan ini disampaikan saat menyerahkan bantuan Dumisake Pendidikan untuk jenjang SMA, SMK, dan SLB Tahun 2025, sekaligus meresmikan SMK N Titian Teras […]

expand_less