Breaking News
Trending Tags

Rangkap Jabatan, Hibah Daerah dan Lompatan Tafsir atas LAM

  • account_circle Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP
  • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
  • print Cetak

Rangkap Jabatan, Hibah Daerah dan Lompatan Tafsir atas LAM

Oleh:

Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP
(Akademisi UIN STS Jambi)

Perdebatan mengenai rangkap jabatan anggota legislatif kembali mengemuka. Rujukannya jelas, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD sebagaimana terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2019. Pasal 236 ayat (1) huruf c menyatakan bahwa anggota DPR dilarang merangkap jabatan sebagai pejabat negara lainnya, hakim, PNS, anggota TNI/Polri, direksi/komisaris/dewan pengawas BUMN/BUMD, serta “badan lain yang anggarannya bersumber dari APBN/APBD.”

Normanya tegas. Tetapi hukum tidak berhenti pada bunyi teks. Hukum menuntut pembacaan atas maksud, konteks dan batas kategorinya. Larangan tersebut dirancang untuk mencegah konflik kepentingan struktural dalam arsitektur kekuasaan negara. Ketentuan itu berfungsi sebagai pagar institusional bukan pagar kultural.

Masalah muncul ketika frasa “badan lain yang anggarannya bersumber dari APBN/APBD” dibaca secara luas tanpa pembedaan yang presisi. Di titik inilah disiplin tafsir menjadi penting.

Adat dalam Konstitusi: Entitas yang Diakui, Bukan Dibirokratisasi

Konstitusi Indonesia melalui Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 menegaskan bahwa negara mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai perkembangan masyarakat. Formulasi ini bukan kebetulan. Rumusan tersebut menegaskan posisi adat sebagai entitas sosial-kultural yang telah ada sebelum negara modern terbentuk.

Dari konstruksi konstitusional tersebut dapat dipahami bahwa relasi antara negara dan adat bersifat pengakuan, bukan penciptaan. Dengan kata lain, konstitusi menempatkan adat sebagai subjek yang diakui keberadaannya, bukan sebagai organ yang dibentuk oleh negara. Dalam kerangka itu, negara mengakui dan menghormati keberadaan adat, tetapi tidak menciptakannya sebagai bagian dari struktur administratif pemerintahan.

Relasi ini bersifat dialogis, bukan hierarkis. Pengakuan konstitusional tidak identik dengan penyeragaman birokratis. Adat tidak berubah menjadi unit kerja pemerintahan hanya karena keberadaannya dicatat dalam peraturan daerah.

LAM: Lembaga Adat, Bukan Badan Negara

Dalam konteks ini, Lembaga Adat Melayu (LAM) harus ditempatkan secara proporsional. Institusi tersebut tumbuh dari konstruksi sosial serta nilai-nilai budaya masyarakat Melayu, bukan organ negara, bukan BUMN/BUMD dan bukan pula unit kerja pemerintahan. LAM tidak menjalankan fungsi administratif, tidak memiliki kewenangan eksekutif, serta tidak berada dalam struktur birokrasi maupun dalam sistem pembiayaan negara yang bersifat struktural dan rutin.
Perdebatan kerap disederhanakan pada satu fakta: penerimaan hibah daerah. Dari premis itu kemudian ditarik kesimpulan bahwa lembaga adat tersebut termasuk “badan yang anggarannya bersumber dari APBN/APBD.” Di titik inilah terjadi perluasan makna yang melampaui batas kategorinya, sehingga menghasilkan penafsiran yang tidak presisi secara hukum.

Hibah Bukan Status Struktural

Dalam hukum keuangan negara dan daerah, hibah adalah instrumen administratif. Hibah bersifat bantuan, berbasis pengajuan dan tidak melekat permanen sebagai pembiayaan struktural. Hibah tidak menjadikan penerimanya bagian dari arsitektur anggaran negara. Frasa “anggarannya bersumber dari APBN/APBD” dalam Pasal 236 ayat (1) huruf c harus dibaca sebagai badan yang operasional dan keberlangsungannya memang dibiayai secara struktural dalam sistem keuangan negara. Dengan demikian, badan tersebut berada dalam orbit administrasi negara, tunduk pada mekanisme perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban anggaran sebagai bagian dari struktur pemerintahan.

Jika setiap lembaga yang pernah menerima hibah publik otomatis dikategorikan demikian, konsekuensinya absurd. Yayasan pendidikan, organisasi keagamaan, komunitas sosial, hingga lembaga kebudayaan akan terseret dalam kategori yang sama. Tafsir seperti ini tidak memperkuat negara hukum. Sebaliknya, penafsiran tersebut justru mengaburkan batas antara negara dan masyarakat.

Perspektif Hukum Administrasi Negara

Dalam hukum administrasi negara, perbedaan antara badan publik dan badan privat bukan ditentukan semata oleh aliran dana, melainkan oleh kedudukan hukum dan fungsi kewenangannya. Badan publik memiliki kewenangan atribusi atau delegasi yang bersumber dari peraturan perundang-undangan untuk menjalankan fungsi pemerintahan. Badan tersebut berada dalam sistem administrasi negara.
LAM tidak memiliki kewenangan administratif, tidak menerbitkan keputusan tata usaha negara, serta tidak menjalankan fungsi pelayanan publik administratif maupun program negara sebagai bagian dari struktur birokrasi. Karena itu, menyamakannya dengan badan yang “anggarannya bersumber dari APBN/APBD” dalam arti struktural merupakan penafsiran yang tidak tepat secara hukum.

Norma Harus Ditafsirkan Secara Ketat

Larangan rangkap jabatan adalah norma pembatasan hak politik. Dalam teori negara hukum, norma pembatasan harus ditafsirkan secara ketat (strict interpretation), bukan diperluas melalui analogi longgar. Prinsip ini menjaga agar hukum tidak berubah menjadi alat persepsi.
Perdebatan etika tentu sah. Persepsi publik boleh beragam. Namun wilayah etika tidak otomatis menjadi pelanggaran hukum. Untuk menyatakan adanya pelanggaran Pasal 236 ayat (1) huruf c, harus terlebih dahulu dibuktikan bahwa lembaga yang dimaksud memang termasuk dalam kategori badan yang secara struktural menjadi bagian dari sistem anggaran negara. Tanpa dasar kategoris yang jelas, tudingan hukum hanya berdiri di atas asumsi.

Menjaga Proporsi dalam Diskursus Publik

Negara berdiri di atas hukum. Adat hidup dalam masyarakat. Keduanya bertemu dalam konstitusi melalui prinsip pengakuan dan penghormatan, bukan melalui penyederhanaan administratif. Membaca norma dengan cermat bukan sekadar soal teknik hukum.

Kecermatan itu merupakan prasyarat agar perdebatan publik tetap proporsional. Ketika batas antara negara dan masyarakat dihapus hanya karena adanya aliran hibah, yang terancam bukan hanya satu kedudukan hukum, tetapi juga ketertiban kategoris dalam sistem hukum itu sendiri.

Dalam negara hukum, ketelitian adalah bentuk tanggung jawab. Tanpa ketelitian, tafsir berubah menjadi opini. Dan ketika opini mengambil alih norma, kebisingan lebih mudah terdengar daripada rasionalitas normatif.

Rekomendasi Untuk Anda

  • LRPPN Bhayangkara Indonesia Gandeng BNN Kota Tangerang Gempur Ponpes Asshiddiqiyah 2 dengan Sosialisasi P4GN

    LRPPN Bhayangkara Indonesia Gandeng BNN Kota Tangerang Gempur Ponpes Asshiddiqiyah 2 dengan Sosialisasi P4GN

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK | TANGERANG – Ratusan santri Pondok Pesantren Asshiddiqiyah 2, Kelurahan Batujaya, Kecamatan Batuceper, mendapatkan bekal penting untuk menjadi benteng anti narkoba. Lembaga Rehabilitasi Pencegahan Penyalahguna Narkotika (LRPPN) Bhayangkara Indonesia Provinsi Banten bersama BNN Kota Tangerang menggelar sosialisasi P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika) serta edukasi anti narkoba, Selasa (5/5/2026). Kegiatan yang […]

  • Ketua DPRD Kaur Dukung Penuh Perkuat Sinergitas antar Instansi Gelar Rakor Lintas Sektoral Jelang Ops Ketupat Nala 2026

    Ketua DPRD Kaur Dukung Penuh Perkuat Sinergitas antar Instansi Gelar Rakor Lintas Sektoral Jelang Ops Ketupat Nala 2026

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK | KAUR – Dalam rangka memastikan kesiapan pengamanan Hari Raya Idul Fitri 1447 H Tahun 2026, Polres Kaur Dan DPRD Kaur menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Lintas Sektoral sebagai bentuk sinergitas antar instansi menjelang pelaksanaan Operasi Kepolisian Terpusat Ketupat Nala 2026. (3-3-2026 ) . Kegiatan yang dilaksanakan di gedung Command Center Polres Kaur yang […]

  • Jalan sebagai Kehadiran Negara: Membangun Konektivitas, Menguatkan Kesejahteraan

    Jalan sebagai Kehadiran Negara: Membangun Konektivitas, Menguatkan Kesejahteraan

    • 1Komentar

    Oleh: Yulfi Alfikri Noer S. IP., M. AP Akademisi UIN STS Jambi Jalan bukan sekadar bentangan aspal yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lain, tetapi urat nadi yang menyalurkan kehidupan sosial, ekonomi, dan harapan masyarakat. Di setiap ruas yang dibangun, negara sesungguhnya sedang menegaskan kehadirannya, bahwa pembangunan bukan hanya soal fisik, melainkan cerminan kepedulian terhadap […]

  • Gubernur Al Haris: Sinergi Pemerintah dan DPRD untuk Jambi Mantap Berkelanjutan

    Gubernur Al Haris: Sinergi Pemerintah dan DPRD untuk Jambi Mantap Berkelanjutan

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK, Jambi (Diskominfo Provinsi Jambi) – Gubernur Jambi Dr. H. Al Haris, S.Sos. MH, menyampaikan bahwa Pemerintah dan DPRD dapat menyamakan persepsi dan pendapat menuju pembangunan Jambi Mantap yang lebih baik, dengan tetap berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan menghargai pertimbangan-pertimbangan, aspirasi, dan pendapat secara proporsional. Hal tersebut disampaikan Gubernur saat menghadiri […]

  • RSUD Brebes Optimalkan Pengolahan Limbah untuk Keamanan Masyarakat

    RSUD Brebes Optimalkan Pengolahan Limbah untuk Keamanan Masyarakat

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK | Brebes – Rumah Sakit Umum Daerah Brebes terus memperkuat sistem pengelolaan limbah medis dan non-medis demi menjaga keselamatan lingkungan serta kesehatan masyarakat Kabupaten Brebes. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam memastikan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) tidak mencemari lingkungan sekitar. Selain itu, sistem terpadu yang diterapkan juga bertujuan […]

  • Bupati Fery Sahputra Simatupang Komitmen Prioritaskan Pembangunan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan

    Bupati Fery Sahputra Simatupang Komitmen Prioritaskan Pembangunan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan

    • 0Komentar

    NEWS PUBLIK | LABUSEL – Bupati Labuhanbatu Selatan, Fery Sahputra Simatupang, meninjau langsung sejumlah wilayah pedesaan untuk memastikan program pembangunan berbasis desa berjalan sesuai kebutuhan masyarakat, di Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Provinsi Sumatera Utara ,Selasa, 17 Februari 2026. Kunjungan itu diikuti Sekretaris Daerah M. Reza Pahlevi Nasution, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), camat, serta komunitas pecinta […]

expand_less